ASSALAMUALAIKUM

Minggu, 29 April 2018

Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Genap (Materi II)


Iman Kepada Para Malaikat

1.      Malaikat
1)      Pengertian Malaikat
      Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari kata mufrad malak yang berarti kekuatan. Dalam mengemban misi dan tugasnya, para malaikat juga disebut dengan “ar-rusnjl” yang berarti para utusan Allah Swt.
      Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nnjr), berdasarkan salah satu hadis nabi Muhammad Saw, “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.” Iman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman.
      Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.
Nama dan Tugas-Tugas Malaikat Adapun tugas-tugas yang paling besar dilaksanakan oleh 10 malaikat, yaitu:
-          Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para nabi dan rasul.
-          Malaikat Mikail, bertugas membagi rezeki kepada seluruh makhluk, menimbang hujan, angin dan juga bintang-bintang.
-          Malaikat Israil, bertugas meniup sangkakala.
-          Malaikat Izrail (malakul maut), bertugas mencabut nyawa
-          Malaikat Munkar dan Nakir, bertugas memeriksa amal manusia di alam barzakh.
-          Malaikat Raqib dan Atid, bertugas mencatat amal baik dan buruk manusia.
-          Malaikat Malik, bertugas menjaga dan mengendalikan api neraka.
-          Malaikat Ridwan, bertugas menjaga pintu surga.
2)      Sifat-sifat Malaikat
a.       Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti. 
“ Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Q.S. al-Anbiya [21]:20)
b.      Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
c.       Selalu takut dan taat kepada Allah Swt.
d.      Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
e.       Mempunyai sifat malu.
Nabi Muhammad bersabda “Bagaimana aku tidak malu terhadap seorang laki-laki yang malaikat pun malu terhadapnya”. (H.R. Muslim).
f.       Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.
Nabi Saw bersabda “Barang siapa makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bakung janganlah mendekati masjid kami, karena malaikat merasa sakit (terganggu) dengan hal-hal yang membuat manusia pun meraa sakit”. (H.R. Muslim).

g.      Tidak makan dan minum.
“Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan." (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).” (Q.S. az-Zariyat [51]:27-28)
h.      Mampu mengubah wujudnya.
Allah berfirman dalam surah Maryam 19: 16-17:
“Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”
i.        Memiliki kekuatan luar biasa dan kecepatan cahaya.
Allah berfirman dalam surah Hud [11]:82, yaitu:
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”

2.      Jin, Iblis, dan Setan
1)      Pengertian Jin, Iblis, dan Setan
Kata Jin berasal dari bahasa Arab artinya menutupi atau merahasiakan, yang dimaksudkan adalah bahwa jin tertutup dari panca indra. Jin adalah makhluk halus yang tidak dapat dilihat, ia diciptakan dari api. Jin dibedakan menjadi dua yaitu :
a.       Jin Kafir, yaitu jin yang membangkang terhadap perintah Allah Swt. Para Ahli Tafsir berpendapat bahwa jin kafir adalah jin yang tidak memurnikan ke-Esaan Allah. Sehingga dalam kekafiran jin itu ada yang bermacam-macam yaitu ada yang Yahudi, Nasrani, Majusi, penyembah berhala dan lain-lain.
b.      Jin Muslim, yaitu jin yang mengakui tentang ke-Esaan Allah Swt, Jin Islam setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran mereka langsung mengatakan bahwa al-Quran itu menakjubkan dan dapat memberikan petunjuk ke jalan yang benar.
Allah berfirman dalam QS. al-Jin [72]:1-3 tentang jin mukmin: 
“Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan Kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.”
            Adapun kata ‘Iblis’ berasal dari bahasa Arab, yaitu “IblƗs” artinya putus asa (dari rahmat atau kasih sayang Allah). Sedangkan kata Setan berasal dari bahasa arab, yaitu “Syaitana” yang artinya jauh. Maksudnya adalah setan itu sangat jauh dari kebaikan dan sangat dekat dari keburukan atau kejahatan.
            Iblis dan setan adalah makhluk halus dari golongan jin. Makhluk ini diciptakan Allah dari api. Kerjanya merangsang keinginan nafsu rendah manusia. Iblis adalah makhluk yang pertama kali mengingkari perintah Allah. Setan identik dengan iblis. Dengan menyandang nama “Setan”, dan tidak hanya membangkang terhadap perintah Allah sebagaimana yang dilakukan iblis, tetapi juga menggoda manusia. Iblis sudah ada sebelum Nabi Adam diciptakan dan hidup dalam kalangan malaikat. Iblis tidak hanya mengingkari perintah Allah dan tidak mau menghormati Adam, tetapi juga berusaha menggoda Adam dan Hawa memakan buah terlarang tersebut, sehingga menurunkannya dari surga menuju dunia (bumi).
2)      Sifat-sifat dan perilaku Jin, Iblis, dan Setan
a.       Sifat-Sifat Jin
a)      Tidak dapat dilihat oleh indra manusia
b)      Diciptakan dari api yang sangat panas
c)      Ada yang mengakui ke-Esaan Allah Swt., dan ada pula yang membangkang perintah Allah.
b.       Perilaku Jin
Jin juga diperintahkan oleh Allah untuk menerima syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan kepada manusia. Menurut sebagian ulama, rupa, tabiat, kelakuan, dan perangai jin mirip manusia. Karena jin juga seperti manusia, mereka pun ada yang baik dan yang jahat, ada yang muslim dan yang kafir. Jin juga memiliki tingkatan iman, ilmu, dan amalan tertentu berdasarkan keimanan dan amalan mereka kepada Allah Swt. Walaupun jin Islam yang paling tinggi imannya dan paling saleh amalannya serta paling luas dan banyak ilmunya, tetapi masih ada pada diri mereka sifat-sifat tercela seperti takabbur, riya’, ujub, dan sebagainya. Namun bisa saja mereka mudah menerima teguran dan pengajaran.
c.       Sifat Iblis dan Setan
a)      Tidak dapat dilihat oleh indra manusia
b)      Diciptakan dari api yang sangat panas
c)      Angkuh dan sombong sebagai sifat dasar dari setan atau iblis
d)      Selalu membangkang terhadap perintah Allah Swt
e)      Tidak mati sebelum datangnya hari kiamat.
d.      Perilaku (Tugas) Iblis dan Setan
Mengingkari perintah Allah dan tidak mau menghormati Adam, tetapi juga berusaha menggoda Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Menghendaki agar manusia menempuh jalan yang sesat, serta menggoda manusia agar menyeleweng dari petunjuk Allah Swt. Setan/Iblis senang jika manusia hidup menderita. Dia akan membinasakan dan menggoda Adam beserta seluruh keturunannya (yaitu golongan manusia) sampai hari kiamat.

Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Genap (Materi III)



Akhlak Tercela Kepada Allah SWT.

Akhlak Tercela Riya’ dan Nifaq
Manusia sebagai makhluk Tuhan telah dianugerahi berbagai nikmat sehingga hal itu mengharuskan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Caranya bersyukur adalah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, yang diwujudkan dalam beberapa akhlak terpuji terhadap-Nya.
Kebalikannya adalah akhlak tercela (akhlak  mazmumah), yaitu perbuatan yang menyimpang dari ajaran Allah Swt yang nantinya akan berdampak negatif, baik bagi pelaku maupun bagi orang lain. Diantara akhlak mazmumah adalah riya’ dan nifaq
1.      Riya’
Riyadalam Bahasa Arab artinya memperlihatkan atau memamerkan, secara istilah riya’ yaitu memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Hal yang sepadan dengan riya adalah sum’ah yaitu berbuat kebaikan agar kebaikan itu didengar orang lain dan dipujinya, walaupun kebaikan itu berupa amal ibadah kepada Allah Swt. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya, berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang ia lakukan. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat.
Dengan demikian orang yang riya berarti juga sum’ah, yakni ingin memperoleh pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan. Rasulullah Saw bersabda:
”Barang siapa (berbuat baik) karena ingin didengar oleh orang lain (sum’ah), maka Allah akan memperdengarkan kejelekannya kepada yang lain. Dan barang siapa (berbuat baik) karena ingin dilihat oleh orang lain (riya’), maka Allah akan memperlihatkan kejelekannya kepada yang lain.” (H.R Bukhari).
Allah juga berfirman dalam QS. an-Nisa ayat 142 :
“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
Alangkah meruginya orang-orang yang bersifat riya’ dan sum’ah, karena mereka bersusah payah mengeluarkan tenaga, harta dan meluangkan waktu, tetapi Allah tidak menerima sedikit pun amal ibadah mereka, bahkan azab yang mereka terima sebagai balasannya.
Firman Allah Swt :
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]:188).
Sabda Rasulullah Saw:
“Allah tidak akan menerima amal yang terdapat unsur riya’ di dalamnya walaupun riya’ itu hanya sebesar dzarrah” (al-Hadis) Allah memberikan ancaman bagi pelaku riya’ termasuk ketika melaksanakan ibadah salat. Orang yang melakukan perbuatan riya’ diancam sebagai pendusta Agama Islam ini, bahkan diancam dengan satu sangsi yaitu neraka Wail.
Allah berfirman dalam Q.S. al-Maun 107: 4-6, yaitu:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.”
Contoh-contoh perbuatan riya’ misalnya adalah:
a.       Sifat–sifat yang melekat pada diri seseorang, seperti suka melekatkan sifat-sifat mulia pada diri sendiri. Hal-hal yang cenderung dipamerkan itu misalnya keelokan dirinya, pakaian atau perhiasan, jabatan di tempat kerja, dan status sosial lainnya.
b.      Seseorang menyantuni anak yatim dihadapan banyak orang dengan maksud agar ditayangkan di TV atau radio.
Adapun akibat buruk riya’ antara lain sebagai berikut
a.       Menghapus pahala amal baik, (QS. al-Baqarah ayat 264)
b.      Mendapat dosa besar karena riya’ terrmasuk perbuatan syirik kecil.
Sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya perkara paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya ( H.R Ahmad)
c.       Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir. (Q.S. al-Baqarah ayat 264).
2.      Nifaq
Kata nifaq berasal dari kata: na¿qa alyarbu’, artinya lubang hewan sejenis tikus. Lubang ini ada dua, ia bisa masuk ke lubang satu kemudian keluar lewat lubang yang lain. Demikianlah gambaran keadaan orang-orang munafik, satu sisi menampakkan Islamnya, tetapi di sisi lain ia amat kafir dan menentang kepentingan Agama Islam.
Nifaq adalah perbuatan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan menampakkan keimanannya dengan ucapan dan tindakan. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Atau dengan kata lain, tindakan yang selalu dilakukan adalah kebohongan, baik terhadap hati nuraninya, terhadap Allah Swt maupun sesama manusia. Pelaku perbuatan nifaq disebut munafik. Firman Allah Swt.
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok." (Q.S. al-Baqarah [2]:14).
1)      Dua Kategori Nifaq
Perbuatan Nifaq dikategorikan menjadi dua, yaitu:
a.       Nifaq I’tiqadi
Nifaq I’tiqadi adalah suatu bentuk perbuatan yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt., sedangkan dalam hatinya tidak ada keimanan sama sekali. Dia salat, bersedekah, dan beramal saleh lainnya, namun tindakannya itu tanpa didasari keimanan dalam hatinya.
Firman Allah Swt.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. an-Nisa’ [4]:142).
Pelaku nifaq diancam Allah dengan disamakan dengan orang fasik yang diancam dengan neraka Jahannam dan kekal di dalamnya.
Allah juga berfirman dalam QS. at-Taubah [9]:67-68:
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.”
Allah akan memasukkan orang munafik dan orang kafir bersama-sama dalam neraka. Dalam QS. an-Nisa ayat 140, Allah berfirman:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”
Kisah Abdullah ibnu Saba’, dia adalah tokoh munafiq Madinah, semenjak kemunculan Nabi Saw, ia sudah memendam rasa benci terhadap Nabi. Sebuah kisah menerangkan bahwa kebencian terhadap Nabi disebabkan karena hijrahnya Nabi ke Madinah, dengan sebab hijrah inilah, ia merasa kurang diperhatikan lagi oleh masyarakatnya, semula, ia adalah calon pemimpin Madinah. Tetapi setibanya Nabi di Madinah, maka pamor akan status sosial Abdullah ibnu Saba’ menjadi padam. Lalu ia amat memendam rasa benci kepada Nabi Saw. Dalam sejarah perjuangan Islam, dialah sosok yang paling banyak mengendurkan semangat umat Islam dalam berjuang melawan orang-orang kafir, ia juga pernah berusaha mengusir Nabi dari Madinah, ia juga yang pernah mem¿tnah Sayyidah Aisyah, Istri Nabi pernah berselingkuh dengan seorang sahabat bernama Shafwan Ibnu Muatthal, lalu Allah menolong langsung sahabat Aisyah, menjelaskan masalahnya dengan menurunkan ayat-ayat al-Quran. Dan ketika Abdullah ibnu Saba’ meninggal di Madinah. Anaknya berusaha memohon pada Nabi untuk turut serta menshalatkan dan menguburkannya. Lalu Nabi amat berbaik hati, menshalatkannya dan turut menguburkannya, lalu mendoakkannya. Setelah Nabi mendoakan dan mengistighfarkan untuknya, maka Allah menurunkan surah at-Taubah 9:80:
“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”
Ayat ini menerangkan bahwa kemunafikan Abdullah Ibnu Saba’ sudah melewati batas kekafiran, sehingga Allah-pun tidak berkenan menerima taubatnya.
b.      Nifaq Amali
Nifaq amali adalah kemunafikan berupa pengingkaran atas kebenaran dalam bentuk perbuatan. Sesuai dengan Sabda Rasulullah Saw:
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu apabila berkata selalu berdusta, apabila berjanji selalu tidak ditepati, dan apabila dipercaya selalu mengkhianati”. (HR. Bukhari Muslim).
Ciri-ciri perbuatan yang masuk kategori nifaq:
a)      Tidak mampu menegakkan salat kecuali dengan malas-malasan, ia merasa ragu terhadap balasan Allah di akhirat.
b)      Hanya berfikir jangka pendek yaitu kekayaan duniawi semata
c)      Terbiasa dengan kebohongan, ingkar janji, dan khianat.
d)      Tidak mampu ber-amar ma’ruf nahyi munkar.
e)      Sering kali dalam pembicaraannya menyindir dan menyakiti Nabi atau Islam.

About me

Hallo Salam kenal saya Salma Urfa dari Pekalongan Jawa Tengah. Saya kelahiran tahun 1998, anak pertama dari tiga bersaudara. Kegiatan sehar...