ASSALAMUALAIKUM

Selasa, 01 Mei 2018

Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Ganjil (Materi IV)


ADAB SHOLAT DAN BERDZIKIR
Adab Sholat
           Shalat adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh dan berakal sehat. Shalat pada hakikatnya adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dengan Allah Swt.. Akan tetapi, banyak orang kurang bisa menikmati ibadah shalat. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya adalah karena ia menganggap shalat hanyalah rutinitas belaka, sehingga shalatnya tidak berdampak apa-apa dalam kehidupannya. Padahal Allah ber¿rman bahwa dengan shalat yang khusyu’ maka seseorang akan bisa terhindar dari berbuat kekejian dan kemunkaran. Sehingga di antara masalah  bangsa ini adalah banyak orang yang shalat, tapi sebagian mereka ada yang melakukan korupsi. Naudzu Billahi. Lalu kita perlu bertanya; Ada apa dengan shalatnya? Bagaimanakah shalatnya?
Marilah kita agungkan ibadah shalat ini dengan cara memperhatikan adab-adabnya, yaitu:
Menjaga waktu dan batas-batasnya.  
Ketika waktu shalat masuk, bersegera menunaikannya dengan penuh semangat saat kewajiban itu tiba. Nabi bersabda pada Bilal: “Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat!“ (Maksudnya: beradzanlah lalu kita melaksanakan shalat dan menikmati shalat).  Allah berfirman yang artinya: "Maka celaka bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang shalat mereka lupa diri" . Para ulama mengatakan lupa dalam ayat ini terutama adalah masalah meneledorkan waktu shalat.
Demikian pula tempat shalat dan sujud, kita rapikan dan bersihkan dari najis-najis yang ada, singkirkan gambar, tulisan atau apa saja yang mengganggu kekhusyu’an shalat. 3.
Memakai  pakaian kita yang terbaik, saat panggilan shalat telah tiba, rapi, santun, baik,  harum semerbak (bagi laki-laki)  dan menutup aurat secara sempurna. Allah amat senang kalau perintahnya kita amalkan dengan suka cita. Allah memerintahkan dalam Al-Quran:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu  yang indah di setiap (memasuki) masjid, …”. {QS. al-A’raf 7: 31}.
Memakai pakaian terbaik saat shalat merupakan tanda dan wujud syukur seseorang akan nikmat Allah Swt. yang dikaruniakan padanya.
Menyesal serta bersedih, jika tidak dapat menunaikan dan menikmati shalat dengan baik dan sempurna. Di antara inti shalat adalah berzikir di dalam shalat. Allah ber¿rman pada Nabi Dawud: “Dan dengan berzikir padaKu, hendaklah mereka merasa ni’mat”. Allah ber¿rman: “dan sungguh, zikir pada Allah-lah yang terbesar”. Maksudnya adalah kita diharapkan menikmati zikir atau bacaan-bacaan shalat kita, sehingga berpengaruh pada hati nurani dan amal perbuatan sehari-hari.
Dan supaya kita khusyu’, Nabi memerintah: “shalatlah seperti shalatnya orang yang berpamitan (dari dunia ini)”. Maksudnya shalatlah seakan-akan ini adalah shalat kalian yang terakhir di dunia.

Adab Berzikir
Kurang afdhal apabila orang yang melaksanakan shalat, usai salam ia langsung berdiri pulang tanpa berzikir. Sehingga ba'da shalatpun seseorang dianjurkan berzikir. Zikir menurut bahasa berarti ingat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah mengingat Allah dengan cara memperbanyak mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah  sesuai dengan yang diajarkan oleh rasulullah, para sahabat, dan orang-orang yang soleh sebelum kita. Allah Swt. berfirman dalam surah al-A’raf ayat 205 yang artinya :
 “Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Q.S. al-A’raf  [7]:205).
Ayat di atas, maka kita akan paham bahwa zikir adalah suatu yang diperintahkan oleh Allah sesering mungkin. Kita sebagai seorang Muslim tentunya tidak asing lagi dengan zikir. Hanya saja,terkadang kita tidak memperhatikan adab/cara berzikir. Sehingga tidak jarang zikir yang kita lakukan tidak berbekas sama sekali terhadap kehidupan kita. Padahal minimal, zikir bisa menentramkan hati  pelakunya, sebagaimana firman Allah yang berarti: “Bukankah dengan berzikir/ mengingat Allah hati akan menjadi tentram? ”Oleh karenanya, perlu kita perhatikan adab-adab saat berzikir kepada Allah. Adapun adab berzikir di antaranya adalah: Ikhlas dalam berzikir mengharap ridha Allah, membersihkan amal dari campuran dengan sesuatu. Menghadirkan makna zikir dalam hati, sesuai dengan tingkatannya dalam musyahadah.
Berzikir dengan zikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasulullah, karena zikir adalah ibadah. Membaca Al-Quran dengan niat berzikir juga dianjurkan.
Mencoba memahami maknanya dan khusu’ dalam melakukannya.
Duduk disuatu tempat atau ruangan yang suci seperti duduk dalam shalat juga dianjurkan.
Mewangikan pakaian dan tempat dengan minyak wangi,  pakaian yang bersih dan halal.
Memilih tempat yang agak sunyi, boleh memejamkan dua mata, karena dengan mata terpejam itu, tertutup jalan-jalan panca indra lahir, sehingga mengakibatkan terbukanya panca indra hati.

Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Ganjil (Materi V)

 NABI SULAIMAN A.S.
Keagungan Nabi Sulaiman
Sulaiman bin Dawud adalah satu-satunya Nabi sekaligus raja yang memperoleh keistimewaan dari Allah Swt. sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud-hud dan juga mampu memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An-Naml ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi yang sangat kaya-raya ini. Firman Allah:  “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia Allah yang nyata”.   Nabi Sulaiman adalah  Nabi yang dipilih Allah untuk menjadi kekasihnya. Di antara karunia besarnya adalah:
1. Mengetahui bahasa semua binatang.
2. Nabi yang paling kaya di antara manusia sepanjang sejarah peradaban.
3. Mempunyai pasukan yang paling kuat dalam sejarah manusia, yaitu pasukan manusia dan para jin yang bekerja menuruti perintahnya.
4. Ia juga dapat mengendarai angin sesuai perintahnya. Kemampuan mengendarai  angin ini merupakan kendaraan yang paling cepat di antara kendaraan manapun.
Tetapi justru dengan kekuasaannya yang amat agung dan besar seakan tidak terbatas, hal ini membuat Nabi Sulaiman merasa rendah hati di hadapan makhlukNya yang lain,  di antaranya adalah:
Rasa malu pada Allah Swt.: Nabi Sulaiman melihat  karunia Allah  terlalu besar, tetapi ibadahnya ia merasa masih kurang, beliau malu memandang ke langit karena malu kepada Allah Swt.
Berdialog dengan rakyat kecil: Nabi Sulaiman senang berkomunikasi dengan rakyatnya, walaupun rakyatnya (hanya) beberapa ekor semut. Ketika pasukan jin, manusia dan burungburung  sampai di lembah semut berkatalah seekor semut bernama Jarsan, ia berkata:  "Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Mendengar hal ini, Nabi Sulaiman bertanya: 'Mengapa engkau berkata seperti itu? Maka Jarsan berkata: "Mohon maaf wahai Nabi, saya akan memerintah  yang lain". Maka Jarsan berkata pada  warga semut: "Wahai para semut, marilah kita minggir berbaris rapi untuk menyaksikan iring-iringan pasukan  Nabi Sulaiman". Dari  sinilah Nabi Sulaiman tersenyum dan berdoa pada Allah supaya diberi karunia pandai bersyukur atas nikmat Allah Swt. Baca QS. An-Naml [27]:18-26.
Nabi Sulaiman senang bekerja sebagai wujud syukur: Nabi Sulaiman termasuk sebagian nabi yang paling pandai bersyukur seperti diungkap dalam Al-Quran. Suatu ketika beliau bertanya pada Allah: "Ya Allah tunjukkan padaku seseorang yang bisa membuatku pandai bersyukur? "Lalu Allah memerintahnya melihat dua orang yang bekerja keras. Yang seorang bekerja keras bertujuan sekedar untuk mengganjal perut dari kelaparan. Sedangkan yang satu lagi ia bekerja bertujuan untuk bersyukur dan  tidak termasuk orang yang dikatakan penganggur. Lalu Nabi Sulaiman berdoa pada Allah supaya diajari pekerjaan yang membuatnya bersyukur, lalu Allah mengajarinya ilmu menyepuh besi dengan emas. Sehingga beliaulah manusia pertama yang menyepuh besi dengan emas.
Juga kehebatan kekhusyuan shalat Nabi Sulaiman: Sampai-sampai beliau meninggal dalam posisi sedang berdiri shalat. Sudahkah shalat kalian khusyu? Allah berfirman dalam Q.S. As Saba’ 34:14 yang artinya “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah Jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan (jadi pelayan yang bekerja keras untuk Nabi Sulaiman). (QS. As-Saba [34]: 14)
Beberapa tafsir menyebutkan bahwa meninggalnya Nabi Sulaiman adalah ketika beliau sedang berdiri melaksanakan shalat. Dalam keadaan berdiri, ruhnya diambil oleh Allah Swt., dan beliau sedang berdiri memegang sambil bersandar pada tongkatnya, ia berdiri dalam posisi meninggal selama satu tahun, dan pasukannya yang juga terdiri dari jin-jin dan setan tidaklah mengetahui kalau Nabi Sulaiman telah meninggal bahkan sudah selama satu tahun. Sehingga  tongkat yang dipakai bersandar itu rapuh dimakan rayap, saat itulah Nabi Sulaiman tersungkur  jatuh, dan saat itulah para jin sadar bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal. Subhanallah. Semoga kita bisa meneladaninya. Amin.

Minggu, 29 April 2018

Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Genap (Materi I)


Asmaul Husna (Mendekati Allah SWT Melalui Nama-nama Nya)

1.      Definisi Asmaul Husna
            Secara bahasa arti dari asma’ adalah nama-nama, sedangkan al-husna adalah terbaik. Asmaul husna adalah Nama-nama terbaik yang mencerminkan kebesaran Allah dan keagungan-Nya yang mesti menyatu
dalam diri-Nya. Allah berfirman juga dalam Q.S Thaha [20] : 8
 “ Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik).
Dalam hadisnya Rasulullah bersabda:
"Sungguh Allah mempunya 99 nama, 100 kurang satu, barang siapa menghafalnya, maka ia akan masuk surga”. (HR Bukhari dan Muslim).
            Jadi, Asmaul husna adalah nama-nama terbaik dan agung yang dimiliki oleh Allah Swt. Kita harus meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama terbaik ini. Allah sendiri menyatakan dalam Al-Quran bahwasannya Dia memang mempunyai nama-nama terbaik, yaitu Asmaul Husna. Beberapa ayat yang menunjukkan keberadaan Asmaul husna di antaranya adalah:
 “Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S al-Hasyr 59: 24).
            Allah juga memerintah hamba-Nya untuk berdoa menggunakan media nama-nama-Nya, asmaul husna, Allah ber¿rman dalam surah al-A’raf [7]: 180:
“Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya".
Pembahasan 1:
1. Al-Aziz (Azza) yang artinya Maha Perkasa.
2. Al-‘Adl, Maha Adil.
3.Al-Qayyum, Maha Berdiri Sendiri (Maha Mengurusi hambaNya).
Pembahasan 2:
4. Al-Ghaffar artinya Maha Pengampun
5. Al-Basit Ü’artinya Maha Melapangkan
6.An-Nafi’ artinya Maha Memberi Manfaat
Pembahasan 3:
7. Ar-Ra’uf, Maha Pengasih.
8. Al-Barr, Maha Baik.
9. Al-Fattah, Maha Membuka, Memenangkan.

2.      Memahami Kebesaran Allah Melalui Asmaul Husna
1)      Al-Aziz
      Al-Aziz adalah nama Allah yang menunjuk pada pengertian kekuatan, hegemoni, ketinggian, dan mengendalikan. Al-’Aziz juga merupakan nama Allah yang menunjukkan keperkasaan Allah Swt. Keperkasaan-Nya tidaklah mampu diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Allah berfirman dalam QS. Yasin ayat 1-5 yang menunjukkan bahwa diriNya yang memiliki Maha Keperkasaan dan Maha kasih sayang. Yaitu:
1. Yaa siin
2. demi Al Quran yang penuh hikmah,
3. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
4. (yang berada) diatas jalan yang lurus,
  5.(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
        Dalam ayat ini, Allah memaklumatkan bahwa diri-Nya-lah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, tiada yang bisa mengungguli keperkasaan Allah Swt. Misalnya dalam menggerakkan matahari di atas kita, Allah Maha Perkasa untuk menjaganya sampai nanti hari kiyamat. Dalam Al-Quran penyebutan kata Al-Aziz sering kali diiringi dengan kata al-hakîm atau kata al-Rahim. Misalnya dalam surah al-Maidah [5]:118: 
“ Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Hal ini menunjukkan bahwa sifat Maha Keperkasaan, Maha Kekuatan-Nya, sifatMaha Mengendalikan-Nya senantiasa diiringi dengan Kebijaksanaan Allah dan kasih sayang Allah Swt.
2)      Al-Adl
      Kata ‘adl di dalam Al-Qur’an memiliki aspek dan objek yang beragam, begitu pula pelakunya. Keragaman tersebut mengakibatkan keragaman makna ‘adl (keadilan). Menurut penelitian M. Quraish Shihab bahwa —paling tidak— ada empat makna keadilan.
      Pertama, ‘adl di dalam arti ‘sama’. Kedua, ‘adl di dalam arti ‘seimbang’. Ketiga, ‘adl di dalam arti ‘perhatian terhadap hak-hak individu dan memberi kan hakhak itu kepada setiap pemiliknya’. Pengertian inilah yang dide¿nisikan dengan ‘menempatkan sesuatu pada tempatnya’ atau ‘memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat’ Keempat, ‘adl di dalam arti ‘yang dinisbahkan kepada Allah’. ‘Adl di sini berarti ‘memelihara kewajaran atas ber lanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Jadi, keadilan Allah pada dasarnya merupakan rahmat dan kebaikan-Nya. Keadilan Allah mengan dung konsekuensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya. Allah memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki sesuatu di sisiNya.
      M. Quraish Shihab menegaskan bahwa manusia yang bermaksud meneladani sifat Allah yang al-‘Adl ini—setelah meyakini keadilan Allah—dituntut untuk menegak kan keadilan walau terhadap keluarga, ibu bapak, dan dirinya, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Keadilan pertama yang dituntut adalah dari dirinya dan terhadap dirinya sendiri, yakni dengan jalan meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama; bukan menjadikannya tuan yang mengarahkan akal dan tuntunan agama. Karena jika demikian, ia justru tidak berlaku ‘adl, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar.
3)      Al-Qayyum
      Al-Qayyûm adalah salah satu dari Asmaul Husna . Al-Qayyum artinya Maha (cermat) Berdiri sendiri dalam Mengurusi hamba-hambaNya. Allah berfirman dalam ayat Kursi (al-Baqarah 2:255), bahwa Allah tak tersentuh oleh rasa kantuk sedikitpun, tidak juga tersentuh oleh tidur. Hal ini disebabkan karena Allahlah yang Maha Suci dari sifat-sifat kekurangan yang hanya dialami oleh makhluk-Nya.
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. “
Nabi dalam doa hariannya juga berdoa menggunakan lafal Ya Hayyu Ya Qayyum, yaitu: “Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurusi hambaNya, dengan rahmatMu kami mohon pertolongan, perbaikilah keadaan kusemuanya, dan jangan Engkau serahkan padaku (akal dan kekuatanku), sekejap mata-pun”.
      Allahlah yang mengurusi dan memperbaiki alam semesta setelah di lakukan perusakan oleh manusia, tiada yang lebih baik daripada perbuatan Allah dalam mengurusi dan memperbaikinya. Misalnya ada manusia yang mengotori tanah dengan limbah-limbah, nanti Allah akan memperbaiki juga walau jika kita melihatnya akan memerlukan waktu yang lama. Allah tidaklah tersentuh oleh rasa lelah, kantuk dan tidur. Suatu ketika Nabi Musa As. bertanya kepada Allah: “Ya Allah, tidakkah Engkau merasa lelah dalam menjaga makhluk-makhlukMu, juga alam semesta ini?” Maka, Allah memerintah Musa As. untuk mengambil sebuah cermin. Allah berfirman: “Ambillah sebuah cermin wahai Musa, lalu peganglah ia, satu malam saja dengan berdiri, jangan sampai cermin tersebut jatuh”.
      Lalu Nabi Musa mengambil dan memegang cermin itu, dan berusaha berdiri semalam untuk menjaga cermin tersebut supaya tidak jatuh. Dan sampailah pertengahan malam, dan karena lelah dan berat rasa kantuk Nabi Musa, maka terjatuhlah cermin itu dari tangan Mabi Musa. Setelah terjatuh, maka cermin itu jatuh berkeping-keping. Lalu Nabi Musa mengambil pecahan-pecahan cermin.
4)      Al-Ghaffar
      Al-Ghaffar adalah nama Allah yang menunjukkan sifat-Nya bahwa Allah Maha Pengampun yang akan memberikan ampunan pada hamba-Nya yang mu’min. Allah amat senang dalam memberikan ampunan (maghfirah) kepada hamba-Nya jikalau hamba tersebut mau memohon ampunan pada-Nya. Allah memerintah hamba-Nya untuk meminta ampunan padaNya, karena tiada hamba yang selalu berada di atas kebenaran 100 %. Beberapa Nabi juga mengalami hal yang sama, mereka ada yang melakukan kekhilafan, lalu Allah memberitahu cara mereka memohon ampunan, lalu mereka memohon ampunan dan bertaubat pada Allah Swt. Allah berfirman dalam QS. Nuh [71]:10-12.
“Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
5)      Al-Basit
      Arti al-Basît adalah Maha Meluaskan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena Allahlah yang melapangkan rizki dan juga menyempitkannya, yang membentangkan rizki itu dengan rahmat-Nya dan menahannya dengan kebijakan-Nya terhadap hambaNya yang bersangkutan.
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. al-Isra’ [17]:30-31)
      Al-Basith adalah membentangkan rizki kepada hamba-Nya dan meluaskannya kepada mereka dengan kedermawanan-Nya dan rahmat-Nya. Lawanya adalah al-Qabidh yang artinya menahan rizki dengan kebaikan hati-Nya. Dengan demikian, Allah adalah Zat yang Memberi dan sekaligus Menahan.
      Dalam kehidupan ini, makhluk Allah mengalami pasang surut kehidupan. Ada kalanya miskin, lalu Allah menjadikan dan juga termasuk manusia akan mengalami roda kehidupan.
      Allah sudah mengatur rizki makhluk-Nya, bahkan Allah sudah mengatur rizkinya semut, bakteri dan lain-lain sebagainya, Allah itu Maha Melapangkan rizki, sehingga kita sebagai hambaNya dilarang takut akan mengalami kesempitan rizki selagi kita melaksanakan perintah Allah Swt.
      Allah Swt. senantiasa membentangkan rahmatNya dan kasih-Nya untuk menerima taubat hamba yang terlanjur berbuat dosa. Dia membentangkan rezeki (memperbanyak rezeki) yang dibutuhkan hamba-Nya, dan Dia pula mempersempit rezeki kepada hamba yang dikehendaki- Nya. Firman Allah Swt. :

“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Qs. ar-Ra’d 13:26).
6)      An-Nafi’
      Allah dalam menciptakan segala yang ada di alam ini tiada yang sia-sia. Allah mempunyai tujuan dan manfaat, sehingga ciptaan Allah mesti akan bermanfaat pada makhluk-Nya yang lain. Allah menciptakan bakteri umpamanya, ada sebagian besar bakteri yang juga mempunyai manfaat bagi tubuh manusia. Allah menciptakan buah manggis misalnya, maka buah ini dapat dikonsumsi sebagai buah-buahan yang segar. Bahkan sekarang ini, kulit dari buah manggispun dijadikan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit yang dialami oleh manusia seperti obat penyakit kanker, jantung, kolesterol jahat dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwasannya Allah tidak menyia-nyiakan hal-hal kecil-pun dari ciptaan-Nya. Allah Maha Cermat dalam memberikan aspek manfaat ciptaanNya.
Allah berfirman dalam surah Ali Imran [3] 190-191:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”
7)      Ar-Ra’uf
      Ar-Ra’uf adalah salah satu dari Asmaul Husna. Allah mempunyai nama Ar-Ra'uf yang artinya Maha Belas Kasih dan Maha Memberi kepada hamba-hambaNya. Allah sudah amat termasyhur akan kedermawanannya, sehingga makna Ar-Ra'uf bisa dimaknai dengan Maha Dermawan juga.
      Allah Maha Memberi dan selalu memberi walaupun tidak diminta, walau hamba tidak mau beribadah dan berdoa kepadaNya, maka Allah tetap akan memberi di dunia ini.
      Inilah wujud cinta Allah kepada hambaNya di dunia.Ya, bukti cinta adalah memberi. Allahlah yang paling banyak memberi karunia pada hamba-Nya. Tetapi di akhirat, Allah hanya memberikan rahmatnya paa orang-orang Mukmin saja.
      Sifat kasih sayang Allah ini yaitu Ar-Ra'uf, sudah diamalkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam Al-Quran, saking baiknya pelaksanaan amal Nabi Muhammad Saw. sampai pada akhirnya Allah menyebutkan dan memuji Nabi, lalu juga menulis perilaku Nabi sama dengan yang diinginkan oleh Allah Swt.
Allah berfirman dalam Q.S at-Taubah 9:128.
 “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
8)      Al-Barr
      Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Dermawan, Yang Maha melimpahkan kebaikan. DanDialah Allah menganugerahkan aneka anugerah untuk kemaslahatan makhluk-Nya, anugerahyang sangat luas dan tidak terhingga. Walaupun terhadap manusia yang durhaka kepada-Nya, namun Dia tetap melimpahkan kebaikan-Nya kepada mereka. Firman Allah Swt. :
“Sesungguhnya Kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ath-Thur 52:28).
      Penggunaan sifat al-Barr dengan al-Rahim untuk mengisyaratkan bahwa aneka kebaikan itu diberikan Allah atas kasih sayangNya yang melimpah. Dan Dia tak mengharapkan imbalan apapun dari kebaikan pada makhlukNya.
      Allah adalah Maha Baik, dalam memperlakukan hambaNya selalu baik. Bahkan dalam kemaslahatan suatu penyakit umpamanya, Allah Maha Baik dalam hal memberikan yang baik terhadap hamba tersebut. Orang yang mengalami sakit apapun bentuknya, manakala dia ikhlas dalam menjalaninya, maka penyakit inipun akan menjadi penghapus dosanya bagi mereka yang mengalaminya.
      Sakit dalam pandangan Allah adalah merupakan cara untuk membersihkan hamba dari dosa-dosa. Nabi Bersabda bahwasannya semua yang menimpa manusia tiada lain bertujuan untuk menyempurnakan manusia sehingga sewaktu mereka akan menghadap Allah nanti dalam keadaan suci bersih. Nabi bersabda bahwasannya termasuk duri yang terinjak oleh manusia, bilamana hamba tersebut merasa ikhlas maka ia akan menjadi penghapus akan dosa-dosa hamba tersebut. Allah berfirman dalam berbagai ayat dalam al-Quran bahwa Dia tidak akan berbuat zalim atau menganiaya hambaNya. Artinya apabila seorang hamba berbuat baik, pasti Allah memberikan pahala. Bahkan Allah akan memberikan pahala satu kebaikan dengan melipatkannya menjadi minimal 10 kali lipat, 70 kali lipat, seratus kali lipat,dan tujuh ratus kali lipat. Dan bahkan ada amal-amal yang diberi pahala oleh Allah Swt. seribu kali lipat bahkan tidak terhingga (bighairi hisab) misalnya adalah pahala berbuat sabar.
Allah berfirman:
“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imron 3:182).
9)      Al-Fattah
      Al-Fattah artinya adalah Allah Maha Membuka akan pintu rahmatNya. Allah membuka jalan bagi manusia supaya mereka dapat menggali karunia Allah yang menyebar di alam semesta raya ini. Allah juga akan membukakan pintu-pintu kemenangan bagi hamba yang menjalankan perintah-Nya.
      Menurut al-Khattabi, al-Fattah adalah Maha Memberi keputusan hukum bagi hamba-hambaNya.
Dalam surah as-Saba [34]: 26:
“Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. dan Dia-lah Maha pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”
      Ayat ini mengacu pada dikumpulkannya kita pada hari Qiyamat. Untuk diberi keputusan dengan benar dan adil.
      Dikatakan al-Fattah al-Alim adalah Allah Maha Memutuskan dengan ilmu dan Pengetahuan-Nya yang mencakup segala sesuatu, karena Dia Maha mengetahui hakikat atas segala sesuatu.
      Makna al-Fattah lainnya adalah Allah Maha Memutuskan antara orang-orang Mukmin dan kafir.
Dalam surah al-A’raf 7: 89-91, Allah berfirman: 
“Sungguh Kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika Kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan Kami dari padanya. dan tidaklah patut Kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan Kami menghendaki(nya). pengetahuan Tuhan Kami meliputi segala sesuatu. kepada Allah sajalah Kami bertawakkal. Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara Kami dan kaum Kami dengan hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
      Nabi Muhammad Saw diberi janji oleh Allah berupa isyarat kemenangan bahwasannya Allah akan memberikan pada mereka kemenangan yang dekat, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Fath 48:18-19).
Kata al-Fattah juga bisa bermakna Allah Dzat yang Maha memberi Kemenangan.

About me

Hallo Salam kenal saya Salma Urfa dari Pekalongan Jawa Tengah. Saya kelahiran tahun 1998, anak pertama dari tiga bersaudara. Kegiatan sehar...