Selasa, 01 Mei 2018
Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Ganjil (Materi IV)
ADAB SHOLAT DAN BERDZIKIR
Adab Sholat
Shalat adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh dan berakal sehat. Shalat pada hakikatnya adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dengan Allah Swt.. Akan tetapi, banyak orang kurang bisa menikmati ibadah shalat. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya adalah karena ia menganggap shalat hanyalah rutinitas belaka, sehingga shalatnya tidak berdampak apa-apa dalam kehidupannya. Padahal Allah ber¿rman bahwa dengan shalat yang khusyu’ maka seseorang akan bisa terhindar dari berbuat kekejian dan kemunkaran. Sehingga di antara masalah bangsa ini adalah banyak orang yang shalat, tapi sebagian mereka ada yang melakukan korupsi. Naudzu Billahi. Lalu kita perlu bertanya; Ada apa dengan shalatnya? Bagaimanakah shalatnya?
Marilah kita agungkan ibadah shalat ini dengan cara memperhatikan adab-adabnya, yaitu:
Menjaga waktu dan batas-batasnya.
Ketika waktu shalat masuk, bersegera menunaikannya dengan penuh semangat saat kewajiban itu tiba. Nabi bersabda pada Bilal: “Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat!“ (Maksudnya: beradzanlah lalu kita melaksanakan shalat dan menikmati shalat). Allah berfirman yang artinya: "Maka celaka bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang shalat mereka lupa diri" . Para ulama mengatakan lupa dalam ayat ini terutama adalah masalah meneledorkan waktu shalat.
Demikian pula tempat shalat dan sujud, kita rapikan dan bersihkan dari najis-najis yang ada, singkirkan gambar, tulisan atau apa saja yang mengganggu kekhusyu’an shalat. 3.
Memakai pakaian kita yang terbaik, saat panggilan shalat telah tiba, rapi, santun, baik, harum semerbak (bagi laki-laki) dan menutup aurat secara sempurna. Allah amat senang kalau perintahnya kita amalkan dengan suka cita. Allah memerintahkan dalam Al-Quran:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, …”. {QS. al-A’raf 7: 31}.
Memakai pakaian terbaik saat shalat merupakan tanda dan wujud syukur seseorang akan nikmat Allah Swt. yang dikaruniakan padanya.
Menyesal serta bersedih, jika tidak dapat menunaikan dan menikmati shalat dengan baik dan sempurna. Di antara inti shalat adalah berzikir di dalam shalat. Allah ber¿rman pada Nabi Dawud: “Dan dengan berzikir padaKu, hendaklah mereka merasa ni’mat”. Allah ber¿rman: “dan sungguh, zikir pada Allah-lah yang terbesar”. Maksudnya adalah kita diharapkan menikmati zikir atau bacaan-bacaan shalat kita, sehingga berpengaruh pada hati nurani dan amal perbuatan sehari-hari.
Dan supaya kita khusyu’, Nabi memerintah: “shalatlah seperti shalatnya orang yang berpamitan (dari dunia ini)”. Maksudnya shalatlah seakan-akan ini adalah shalat kalian yang terakhir di dunia.
Adab Berzikir
Kurang afdhal apabila orang yang melaksanakan shalat, usai salam ia langsung berdiri pulang tanpa berzikir. Sehingga ba'da shalatpun seseorang dianjurkan berzikir. Zikir menurut bahasa berarti ingat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah mengingat Allah dengan cara memperbanyak mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah sesuai dengan yang diajarkan oleh rasulullah, para sahabat, dan orang-orang yang soleh sebelum kita. Allah Swt. berfirman dalam surah al-A’raf ayat 205 yang artinya :
“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Q.S. al-A’raf [7]:205).
Ayat di atas, maka kita akan paham bahwa zikir adalah suatu yang diperintahkan oleh Allah sesering mungkin. Kita sebagai seorang Muslim tentunya tidak asing lagi dengan zikir. Hanya saja,terkadang kita tidak memperhatikan adab/cara berzikir. Sehingga tidak jarang zikir yang kita lakukan tidak berbekas sama sekali terhadap kehidupan kita. Padahal minimal, zikir bisa menentramkan hati pelakunya, sebagaimana firman Allah yang berarti: “Bukankah dengan berzikir/ mengingat Allah hati akan menjadi tentram? ”Oleh karenanya, perlu kita perhatikan adab-adab saat berzikir kepada Allah. Adapun adab berzikir di antaranya adalah: Ikhlas dalam berzikir mengharap ridha Allah, membersihkan amal dari campuran dengan sesuatu. Menghadirkan makna zikir dalam hati, sesuai dengan tingkatannya dalam musyahadah.
Berzikir dengan zikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasulullah, karena zikir adalah ibadah. Membaca Al-Quran dengan niat berzikir juga dianjurkan.
Mencoba memahami maknanya dan khusu’ dalam melakukannya.
Duduk disuatu tempat atau ruangan yang suci seperti duduk dalam shalat juga dianjurkan.
Mewangikan pakaian dan tempat dengan minyak wangi, pakaian yang bersih dan halal.
Memilih tempat yang agak sunyi, boleh memejamkan dua mata, karena dengan mata terpejam itu, tertutup jalan-jalan panca indra lahir, sehingga mengakibatkan terbukanya panca indra hati.
Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Ganjil (Materi V)
NABI SULAIMAN A.S.
Keagungan Nabi Sulaiman
Sulaiman bin Dawud adalah satu-satunya Nabi sekaligus raja yang memperoleh keistimewaan dari Allah Swt. sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud-hud dan juga mampu memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An-Naml ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi yang sangat kaya-raya ini. Firman Allah: “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia Allah yang nyata”. Nabi Sulaiman adalah Nabi yang dipilih Allah untuk menjadi kekasihnya. Di antara karunia besarnya adalah:
1. Mengetahui bahasa semua binatang.
2. Nabi yang paling kaya di antara manusia sepanjang sejarah peradaban.
3. Mempunyai pasukan yang paling kuat dalam sejarah manusia, yaitu pasukan manusia dan para jin yang bekerja menuruti perintahnya.
4. Ia juga dapat mengendarai angin sesuai perintahnya. Kemampuan mengendarai angin ini merupakan kendaraan yang paling cepat di antara kendaraan manapun.
Tetapi justru dengan kekuasaannya yang amat agung dan besar seakan tidak terbatas, hal ini membuat Nabi Sulaiman merasa rendah hati di hadapan makhlukNya yang lain, di antaranya adalah:
Rasa malu pada Allah Swt.: Nabi Sulaiman melihat karunia Allah terlalu besar, tetapi ibadahnya ia merasa masih kurang, beliau malu memandang ke langit karena malu kepada Allah Swt.
Berdialog dengan rakyat kecil: Nabi Sulaiman senang berkomunikasi dengan rakyatnya, walaupun rakyatnya (hanya) beberapa ekor semut. Ketika pasukan jin, manusia dan burungburung sampai di lembah semut berkatalah seekor semut bernama Jarsan, ia berkata: "Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Mendengar hal ini, Nabi Sulaiman bertanya: 'Mengapa engkau berkata seperti itu? Maka Jarsan berkata: "Mohon maaf wahai Nabi, saya akan memerintah yang lain". Maka Jarsan berkata pada warga semut: "Wahai para semut, marilah kita minggir berbaris rapi untuk menyaksikan iring-iringan pasukan Nabi Sulaiman". Dari sinilah Nabi Sulaiman tersenyum dan berdoa pada Allah supaya diberi karunia pandai bersyukur atas nikmat Allah Swt. Baca QS. An-Naml [27]:18-26.
Nabi Sulaiman senang bekerja sebagai wujud syukur: Nabi Sulaiman termasuk sebagian nabi yang paling pandai bersyukur seperti diungkap dalam Al-Quran. Suatu ketika beliau bertanya pada Allah: "Ya Allah tunjukkan padaku seseorang yang bisa membuatku pandai bersyukur? "Lalu Allah memerintahnya melihat dua orang yang bekerja keras. Yang seorang bekerja keras bertujuan sekedar untuk mengganjal perut dari kelaparan. Sedangkan yang satu lagi ia bekerja bertujuan untuk bersyukur dan tidak termasuk orang yang dikatakan penganggur. Lalu Nabi Sulaiman berdoa pada Allah supaya diajari pekerjaan yang membuatnya bersyukur, lalu Allah mengajarinya ilmu menyepuh besi dengan emas. Sehingga beliaulah manusia pertama yang menyepuh besi dengan emas.
Juga kehebatan kekhusyuan shalat Nabi Sulaiman: Sampai-sampai beliau meninggal dalam posisi sedang berdiri shalat. Sudahkah shalat kalian khusyu? Allah berfirman dalam Q.S. As Saba’ 34:14 yang artinya “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah Jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan (jadi pelayan yang bekerja keras untuk Nabi Sulaiman). (QS. As-Saba [34]: 14)
Beberapa tafsir menyebutkan bahwa meninggalnya Nabi Sulaiman adalah ketika beliau sedang berdiri melaksanakan shalat. Dalam keadaan berdiri, ruhnya diambil oleh Allah Swt., dan beliau sedang berdiri memegang sambil bersandar pada tongkatnya, ia berdiri dalam posisi meninggal selama satu tahun, dan pasukannya yang juga terdiri dari jin-jin dan setan tidaklah mengetahui kalau Nabi Sulaiman telah meninggal bahkan sudah selama satu tahun. Sehingga tongkat yang dipakai bersandar itu rapuh dimakan rayap, saat itulah Nabi Sulaiman tersungkur jatuh, dan saat itulah para jin sadar bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal. Subhanallah. Semoga kita bisa meneladaninya. Amin.
Keagungan Nabi Sulaiman
Sulaiman bin Dawud adalah satu-satunya Nabi sekaligus raja yang memperoleh keistimewaan dari Allah Swt. sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud-hud dan juga mampu memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An-Naml ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi yang sangat kaya-raya ini. Firman Allah: “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia Allah yang nyata”. Nabi Sulaiman adalah Nabi yang dipilih Allah untuk menjadi kekasihnya. Di antara karunia besarnya adalah:
1. Mengetahui bahasa semua binatang.
2. Nabi yang paling kaya di antara manusia sepanjang sejarah peradaban.
3. Mempunyai pasukan yang paling kuat dalam sejarah manusia, yaitu pasukan manusia dan para jin yang bekerja menuruti perintahnya.
4. Ia juga dapat mengendarai angin sesuai perintahnya. Kemampuan mengendarai angin ini merupakan kendaraan yang paling cepat di antara kendaraan manapun.
Tetapi justru dengan kekuasaannya yang amat agung dan besar seakan tidak terbatas, hal ini membuat Nabi Sulaiman merasa rendah hati di hadapan makhlukNya yang lain, di antaranya adalah:
Rasa malu pada Allah Swt.: Nabi Sulaiman melihat karunia Allah terlalu besar, tetapi ibadahnya ia merasa masih kurang, beliau malu memandang ke langit karena malu kepada Allah Swt.
Berdialog dengan rakyat kecil: Nabi Sulaiman senang berkomunikasi dengan rakyatnya, walaupun rakyatnya (hanya) beberapa ekor semut. Ketika pasukan jin, manusia dan burungburung sampai di lembah semut berkatalah seekor semut bernama Jarsan, ia berkata: "Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Mendengar hal ini, Nabi Sulaiman bertanya: 'Mengapa engkau berkata seperti itu? Maka Jarsan berkata: "Mohon maaf wahai Nabi, saya akan memerintah yang lain". Maka Jarsan berkata pada warga semut: "Wahai para semut, marilah kita minggir berbaris rapi untuk menyaksikan iring-iringan pasukan Nabi Sulaiman". Dari sinilah Nabi Sulaiman tersenyum dan berdoa pada Allah supaya diberi karunia pandai bersyukur atas nikmat Allah Swt. Baca QS. An-Naml [27]:18-26.
Nabi Sulaiman senang bekerja sebagai wujud syukur: Nabi Sulaiman termasuk sebagian nabi yang paling pandai bersyukur seperti diungkap dalam Al-Quran. Suatu ketika beliau bertanya pada Allah: "Ya Allah tunjukkan padaku seseorang yang bisa membuatku pandai bersyukur? "Lalu Allah memerintahnya melihat dua orang yang bekerja keras. Yang seorang bekerja keras bertujuan sekedar untuk mengganjal perut dari kelaparan. Sedangkan yang satu lagi ia bekerja bertujuan untuk bersyukur dan tidak termasuk orang yang dikatakan penganggur. Lalu Nabi Sulaiman berdoa pada Allah supaya diajari pekerjaan yang membuatnya bersyukur, lalu Allah mengajarinya ilmu menyepuh besi dengan emas. Sehingga beliaulah manusia pertama yang menyepuh besi dengan emas.
Juga kehebatan kekhusyuan shalat Nabi Sulaiman: Sampai-sampai beliau meninggal dalam posisi sedang berdiri shalat. Sudahkah shalat kalian khusyu? Allah berfirman dalam Q.S. As Saba’ 34:14 yang artinya “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah Jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan (jadi pelayan yang bekerja keras untuk Nabi Sulaiman). (QS. As-Saba [34]: 14)
Beberapa tafsir menyebutkan bahwa meninggalnya Nabi Sulaiman adalah ketika beliau sedang berdiri melaksanakan shalat. Dalam keadaan berdiri, ruhnya diambil oleh Allah Swt., dan beliau sedang berdiri memegang sambil bersandar pada tongkatnya, ia berdiri dalam posisi meninggal selama satu tahun, dan pasukannya yang juga terdiri dari jin-jin dan setan tidaklah mengetahui kalau Nabi Sulaiman telah meninggal bahkan sudah selama satu tahun. Sehingga tongkat yang dipakai bersandar itu rapuh dimakan rayap, saat itulah Nabi Sulaiman tersungkur jatuh, dan saat itulah para jin sadar bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal. Subhanallah. Semoga kita bisa meneladaninya. Amin.
Minggu, 29 April 2018
Materi Ajar Madrasah Tsanawiyah (MTS) Kelas VII Semester Genap (Materi I)
Asmaul Husna (Mendekati Allah SWT Melalui Nama-nama Nya)
1.
Definisi Asmaul Husna
Secara bahasa arti dari asma’ adalah
nama-nama, sedangkan al-husna adalah terbaik. Asmaul husna adalah
Nama-nama terbaik yang mencerminkan kebesaran Allah dan keagungan-Nya yang
mesti menyatu
dalam
diri-Nya. Allah berfirman juga dalam Q.S Thaha [20] : 8
“ Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik).
Dalam
hadisnya Rasulullah bersabda:
"Sungguh Allah mempunya 99 nama, 100 kurang satu, barang
siapa menghafalnya, maka ia akan
masuk surga”. (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi, Asmaul husna adalah
nama-nama terbaik dan agung yang dimiliki oleh Allah Swt. Kita harus meyakini
bahwa Allah mempunyai nama-nama terbaik ini. Allah sendiri menyatakan dalam
Al-Quran bahwasannya Dia memang mempunyai nama-nama terbaik, yaitu Asmaul
Husna. Beberapa ayat yang menunjukkan keberadaan Asmaul husna di
antaranya adalah:
“Dialah Allah yang Menciptakan, yang
Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih
kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (Q.S al-Hasyr 59: 24).
Allah juga memerintah hamba-Nya
untuk berdoa menggunakan media nama-nama-Nya, asmaul husna, Allah
ber¿rman dalam surah al-A’raf [7]: 180:
“Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari
surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di
antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam
dengan kamu semuanya".
Pembahasan
1:
1.
Al-Aziz (Azza) yang artinya Maha Perkasa.
2.
Al-‘Adl, Maha Adil.
3.Al-Qayyum,
Maha Berdiri Sendiri (Maha Mengurusi hambaNya).
Pembahasan
2:
4.
Al-Ghaffar artinya Maha Pengampun
5.
Al-Basit Ü’artinya Maha Melapangkan
6.An-Nafi’
artinya Maha Memberi Manfaat
Pembahasan
3:
7.
Ar-Ra’uf, Maha Pengasih.
8.
Al-Barr, Maha Baik.
9.
Al-Fattah, Maha Membuka, Memenangkan.
2. Memahami Kebesaran Allah Melalui
Asmaul Husna
1)
Al-Aziz
Al-Aziz adalah nama Allah yang menunjuk pada pengertian kekuatan,
hegemoni, ketinggian, dan mengendalikan. Al-’Aziz juga merupakan
nama Allah yang menunjukkan keperkasaan Allah Swt. Keperkasaan-Nya tidaklah
mampu diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Allah berfirman dalam QS.
Yasin ayat 1-5 yang menunjukkan bahwa diriNya yang memiliki Maha Keperkasaan
dan Maha kasih sayang. Yaitu:
1. Yaa siin
2. demi Al Quran yang penuh hikmah,
3. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
4. (yang berada) diatas jalan yang lurus,
5.(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang
Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat ini, Allah memaklumatkan bahwa diri-Nya-lah yang Maha
Perkasa dan Maha Bijaksana, tiada yang bisa mengungguli keperkasaan Allah Swt.
Misalnya dalam menggerakkan matahari di atas kita, Allah Maha Perkasa untuk
menjaganya sampai nanti hari kiyamat. Dalam Al-Quran penyebutan kata Al-Aziz
sering kali diiringi dengan kata al-hakîm atau kata al-Rahim. Misalnya
dalam surah al-Maidah [5]:118:
“ Jika Engkau
menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika
Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.”
Hal ini menunjukkan
bahwa sifat Maha Keperkasaan, Maha Kekuatan-Nya, sifatMaha Mengendalikan-Nya
senantiasa diiringi dengan Kebijaksanaan Allah dan kasih sayang Allah Swt.
2)
Al-Adl
Kata ‘adl di dalam Al-Qur’an memiliki aspek dan objek yang
beragam, begitu pula pelakunya. Keragaman tersebut mengakibatkan keragaman
makna ‘adl (keadilan). Menurut penelitian M. Quraish Shihab bahwa —paling tidak—
ada empat makna keadilan.
Pertama, ‘adl di dalam arti ‘sama’. Kedua, ‘adl
di dalam arti ‘seimbang’. Ketiga, ‘adl di dalam arti ‘perhatian terhadap
hak-hak individu dan memberi kan hakhak itu kepada setiap pemiliknya’.
Pengertian inilah yang dide¿nisikan dengan ‘menempatkan sesuatu pada tempatnya’
atau ‘memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat’ Keempat, ‘adl di
dalam arti ‘yang dinisbahkan kepada Allah’. ‘Adl di sini berarti ‘memelihara
kewajaran atas ber lanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi
dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Jadi,
keadilan Allah pada dasarnya merupakan rahmat dan kebaikan-Nya. Keadilan Allah
mengan dung konsekuensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh
sejauh makhluk itu dapat meraihnya. Allah memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan
semua yang ada tidak memiliki sesuatu di sisiNya.
M. Quraish
Shihab menegaskan bahwa manusia yang bermaksud meneladani sifat Allah yang al-‘Adl
ini—setelah meyakini keadilan Allah—dituntut untuk menegak kan keadilan
walau terhadap keluarga, ibu bapak, dan dirinya, bahkan terhadap musuhnya
sekalipun. Keadilan pertama yang dituntut adalah dari dirinya dan terhadap
dirinya sendiri, yakni dengan jalan meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai
tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama; bukan menjadikannya tuan
yang mengarahkan akal dan tuntunan agama. Karena jika demikian, ia justru tidak
berlaku ‘adl, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar.
3)
Al-Qayyum
Al-Qayyûm adalah salah satu dari Asmaul Husna . Al-Qayyum artinya
Maha (cermat) Berdiri sendiri dalam Mengurusi hamba-hambaNya. Allah berfirman
dalam ayat Kursi (al-Baqarah 2:255), bahwa Allah tak tersentuh oleh rasa
kantuk sedikitpun, tidak juga tersentuh oleh tidur. Hal ini disebabkan karena
Allahlah yang Maha Suci dari sifat-sifat kekurangan yang hanya dialami oleh
makhluk-Nya.
“Allah, tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus
menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. “
Nabi
dalam doa hariannya juga berdoa menggunakan lafal Ya Hayyu Ya Qayyum,
yaitu: “Ya Allah Yang Maha Hidup
lagi Maha Mengurusi hambaNya, dengan rahmatMu kami mohon pertolongan,
perbaikilah keadaan kusemuanya, dan jangan Engkau serahkan padaku (akal dan kekuatanku), sekejap mata-pun”.
Allahlah
yang mengurusi dan memperbaiki alam semesta setelah di lakukan perusakan oleh
manusia, tiada yang lebih baik daripada perbuatan Allah dalam mengurusi dan
memperbaikinya. Misalnya ada manusia yang mengotori tanah dengan limbah-limbah,
nanti Allah akan memperbaiki juga walau jika kita melihatnya akan memerlukan
waktu yang lama. Allah tidaklah tersentuh oleh rasa lelah, kantuk dan tidur.
Suatu ketika Nabi Musa As. bertanya kepada Allah: “Ya Allah, tidakkah Engkau
merasa lelah dalam menjaga makhluk-makhlukMu, juga alam semesta ini?” Maka,
Allah memerintah Musa As. untuk mengambil sebuah cermin. Allah berfirman:
“Ambillah sebuah cermin wahai Musa, lalu peganglah ia, satu malam saja dengan
berdiri, jangan sampai cermin tersebut jatuh”.
Lalu Nabi Musa mengambil dan memegang
cermin itu, dan berusaha berdiri semalam untuk menjaga cermin tersebut supaya
tidak jatuh. Dan sampailah pertengahan malam, dan karena lelah dan berat rasa
kantuk Nabi Musa, maka terjatuhlah cermin itu dari tangan Mabi Musa. Setelah
terjatuh, maka cermin itu jatuh berkeping-keping. Lalu Nabi Musa mengambil
pecahan-pecahan cermin.
4)
Al-Ghaffar
Al-Ghaffar
adalah nama Allah yang menunjukkan sifat-Nya bahwa
Allah Maha Pengampun yang akan memberikan ampunan pada hamba-Nya yang mu’min.
Allah amat senang dalam memberikan ampunan (maghfirah) kepada hamba-Nya
jikalau hamba tersebut mau memohon ampunan pada-Nya. Allah memerintah hamba-Nya
untuk meminta ampunan padaNya, karena tiada hamba yang selalu berada di atas
kebenaran 100 %. Beberapa Nabi juga mengalami hal yang sama, mereka ada yang
melakukan kekhilafan, lalu Allah memberitahu cara mereka memohon ampunan, lalu
mereka memohon ampunan dan bertaubat pada Allah Swt. Allah berfirman dalam QS.
Nuh [71]:10-12.
“Maka
aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu
kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
5)
Al-Basit
Arti al-Basît adalah Maha Meluaskan rizki bagi siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Karena Allahlah yang melapangkan rizki dan juga
menyempitkannya, yang membentangkan rizki itu dengan rahmat-Nya dan menahannya dengan
kebijakan-Nya terhadap hambaNya yang bersangkutan.
“Sesungguhnya
Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya;
Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. Dan
janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan
memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka
adalah suatu dosa yang besar.” (QS. al-Isra’ [17]:30-31)
Al-Basith adalah membentangkan rizki kepada hamba-Nya dan
meluaskannya kepada mereka dengan kedermawanan-Nya dan rahmat-Nya. Lawanya
adalah al-Qabidh yang artinya menahan rizki dengan kebaikan hati-Nya.
Dengan demikian, Allah adalah Zat yang Memberi dan sekaligus Menahan.
Dalam
kehidupan ini, makhluk Allah mengalami pasang surut kehidupan. Ada kalanya
miskin, lalu Allah menjadikan dan juga termasuk manusia akan mengalami roda
kehidupan.
Allah
sudah mengatur rizki makhluk-Nya, bahkan Allah sudah mengatur rizkinya semut,
bakteri dan lain-lain sebagainya, Allah itu Maha Melapangkan rizki, sehingga
kita sebagai hambaNya dilarang takut akan mengalami kesempitan rizki selagi
kita melaksanakan perintah Allah Swt.
Allah Swt.
senantiasa membentangkan rahmatNya dan kasih-Nya untuk menerima taubat hamba
yang terlanjur berbuat dosa. Dia membentangkan rezeki (memperbanyak rezeki)
yang dibutuhkan hamba-Nya, dan Dia pula mempersempit rezeki kepada hamba yang
dikehendaki- Nya. Firman Allah Swt. :
“Allah
meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Qs. ar-Ra’d 13:26).
6)
An-Nafi’
Allah
dalam menciptakan segala yang ada di alam ini tiada yang sia-sia. Allah
mempunyai tujuan dan manfaat, sehingga ciptaan Allah mesti akan bermanfaat pada
makhluk-Nya yang lain. Allah menciptakan bakteri umpamanya, ada sebagian besar
bakteri yang juga mempunyai manfaat bagi tubuh manusia. Allah menciptakan buah
manggis misalnya, maka buah ini dapat dikonsumsi sebagai buah-buahan yang
segar. Bahkan sekarang ini, kulit dari buah manggispun dijadikan sebagai obat
untuk berbagai jenis penyakit yang dialami oleh manusia seperti obat penyakit
kanker, jantung, kolesterol jahat dan lain-lain. Hal ini menunjukkan
bahwasannya Allah tidak menyia-nyiakan hal-hal kecil-pun dari ciptaan-Nya.
Allah Maha Cermat dalam memberikan aspek manfaat ciptaanNya.
Allah berfirman dalam surah Ali Imran [3] 190-191:
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau,
Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”
7)
Ar-Ra’uf
Ar-Ra’uf adalah salah satu dari Asmaul Husna. Allah mempunyai
nama Ar-Ra'uf yang artinya Maha Belas Kasih dan Maha Memberi
kepada hamba-hambaNya. Allah sudah amat termasyhur akan kedermawanannya,
sehingga makna Ar-Ra'uf bisa dimaknai dengan Maha Dermawan juga.
Allah Maha Memberi dan selalu memberi walaupun tidak
diminta, walau hamba tidak mau beribadah dan berdoa kepadaNya, maka Allah tetap
akan memberi di dunia ini.
Inilah
wujud cinta Allah kepada hambaNya di dunia.Ya, bukti cinta adalah memberi.
Allahlah yang paling banyak memberi karunia pada hamba-Nya. Tetapi di akhirat,
Allah hanya memberikan rahmatnya paa orang-orang Mukmin saja.
Sifat
kasih sayang Allah ini yaitu Ar-Ra'uf, sudah diamalkan dengan
sempurna oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam Al-Quran, saking baiknya pelaksanaan
amal Nabi Muhammad Saw. sampai pada akhirnya Allah menyebutkan dan memuji Nabi,
lalu juga menulis perilaku Nabi sama dengan yang diinginkan oleh Allah Swt.
Allah berfirman dalam Q.S at-Taubah 9:128.
“Sungguh telah datang
kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi
Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
8)
Al-Barr
Dialah Allah, Tuhan
Yang Maha Dermawan, Yang Maha melimpahkan kebaikan. DanDialah Allah
menganugerahkan aneka anugerah untuk kemaslahatan makhluk-Nya, anugerahyang
sangat luas dan tidak terhingga. Walaupun terhadap manusia yang durhaka
kepada-Nya, namun Dia tetap melimpahkan kebaikan-Nya kepada mereka. Firman
Allah Swt. :
“Sesungguhnya
Kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi
Maha Penyayang.” (Q.S. Ath-Thur 52:28).
Penggunaan
sifat al-Barr dengan al-Rahim untuk mengisyaratkan bahwa aneka
kebaikan itu diberikan Allah atas kasih sayangNya yang melimpah. Dan Dia tak
mengharapkan imbalan apapun dari kebaikan pada makhlukNya.
Allah
adalah Maha Baik, dalam memperlakukan hambaNya selalu baik. Bahkan dalam
kemaslahatan suatu penyakit umpamanya, Allah Maha Baik dalam hal memberikan
yang baik terhadap hamba tersebut. Orang yang mengalami sakit apapun bentuknya,
manakala dia ikhlas dalam menjalaninya, maka penyakit inipun akan menjadi
penghapus dosanya bagi mereka yang mengalaminya.
Sakit
dalam pandangan Allah adalah merupakan cara untuk membersihkan hamba dari
dosa-dosa. Nabi Bersabda bahwasannya semua yang menimpa manusia tiada lain
bertujuan untuk menyempurnakan manusia sehingga sewaktu mereka akan menghadap
Allah nanti dalam keadaan suci bersih. Nabi bersabda bahwasannya termasuk duri
yang terinjak oleh manusia, bilamana hamba tersebut merasa ikhlas maka ia akan
menjadi penghapus akan dosa-dosa hamba tersebut. Allah berfirman dalam berbagai
ayat dalam al-Quran bahwa Dia tidak akan berbuat zalim atau menganiaya
hambaNya. Artinya apabila seorang hamba berbuat baik, pasti Allah memberikan
pahala. Bahkan Allah akan memberikan pahala satu kebaikan dengan melipatkannya
menjadi minimal 10 kali lipat, 70 kali lipat, seratus kali lipat,dan tujuh
ratus kali lipat. Dan bahkan ada amal-amal yang diberi pahala oleh Allah Swt.
seribu kali lipat bahkan tidak terhingga (bighairi hisab)
misalnya adalah pahala berbuat sabar.
Allah berfirman:
“(Azab)
yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya
Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imron 3:182).
9)
Al-Fattah
Al-Fattah
artinya adalah Allah Maha Membuka akan pintu rahmatNya. Allah membuka jalan
bagi manusia supaya mereka dapat menggali karunia Allah yang menyebar di alam
semesta raya ini. Allah juga akan membukakan pintu-pintu kemenangan bagi hamba
yang menjalankan perintah-Nya.
Menurut
al-Khattabi, al-Fattah adalah Maha Memberi keputusan hukum bagi
hamba-hambaNya.
Dalam surah as-Saba [34]: 26:
“Katakanlah:
"Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan
antara kita dengan benar. dan Dia-lah Maha pemberi keputusan lagi Maha
Mengetahui.”
Ayat ini
mengacu pada dikumpulkannya kita pada hari Qiyamat. Untuk diberi
keputusan dengan benar dan adil.
Dikatakan al-Fattah
al-Alim adalah Allah Maha Memutuskan dengan ilmu dan Pengetahuan-Nya yang
mencakup segala sesuatu, karena Dia Maha mengetahui hakikat atas segala
sesuatu.
Makna al-Fattah
lainnya adalah Allah Maha Memutuskan antara orang-orang Mukmin dan kafir.
Dalam surah al-A’raf 7: 89-91, Allah berfirman:
“Sungguh
Kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika Kami kembali
kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan Kami dari padanya. dan tidaklah patut
Kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan Kami menghendaki(nya).
pengetahuan Tuhan Kami meliputi segala sesuatu. kepada Allah sajalah Kami
bertawakkal. Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara Kami dan kaum Kami dengan
hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
Nabi Muhammad Saw
diberi janji oleh Allah berupa isyarat kemenangan bahwasannya Allah akan
memberikan pada mereka kemenangan yang dekat, Allah berfirman:
“Sesungguhnya
Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia
kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka
lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat
mereka ambil. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Fath 48:18-19).
Kata al-Fattah juga bisa bermakna Allah Dzat
yang Maha memberi Kemenangan.
Langganan:
Postingan (Atom)
About me
Hallo Salam kenal saya Salma Urfa dari Pekalongan Jawa Tengah. Saya kelahiran tahun 1998, anak pertama dari tiga bersaudara. Kegiatan sehar...
-
Ashabul Kahfi Ashabul Kahfi Ashabul Kahfi adalah tujuh pemuda yang mendapat petunjuk dan beriman kepada AllahSwt., mereka menyelamatkan i...
-
Akhlak Tercela Kepada Allah SWT. Akhlak Tercela Riya’ dan Nifaq Manusia sebagai makhluk Tuhan telah dianugerahi berbagai nikmat s...
-
TAAT, IKHLAS, KHAUF, DAN TAUBAT Sesudah salam dalam shalat subuh, dengan raut muka penuh kesedihan sembari membalikkan tangan, ‘Ali bin Ab...